"Lynx..." Seorang pria tua menatap ke kejauhan saat Lynx menyerap energi dan menggunakannya untuk menghancurkan Kronar beserta anak buahnya. "Aku tahu itu kamu. Apa rahasiamu sebenarnya?" gumamnya penuh penasaran.

"Leluhur Monrest, apa yang terjadi?" tanya Damon, mendapati leluhurnya tiba-tiba keluar dari bangunan dan menatap langit jauh di sana.

"Anak itu... kekuatannya meningkat lagi. Aku tak bisa menunggu lebih lama," jawab Leluhur Monrest dengan nada frustrasi. Ia merasa terhina melihat seseorang mampu menyerap energi dari dimensi ini, sementara ia sendiri gagal total meski sudah berusaha keras.

Leluhur Monrest mengulurkan tangannya, dan tubuh Ruvan, yang berdiri tidak jauh darinya, tiba-tiba melayang. Lehernya terjebak dalam cengkeraman kuat sang leluhur. "Mana penduduk yang kau janjikan untuk ritual? Aku butuh kekuatan penuh agar kita bisa keluar dari tempat terkutuk ini."

"Segera... secepatnya," jawab Ruvan terbata, wajahnya pucat pasi menahan rasa takut saat tatapan tajam Leluhur Monrest menghujamnya.

"Pastikan itu terjadi, atau kau akan menggantinya dengan darahmu!" ancam Leluhur Monrest, sebelum melempar tubuh Ruvan ke lantai dengan kasar.

Namun, keesokan harinya, Ruvan menerima kabar buruk dari salah satu mata-matanya. "APA?! Kronar dan semua anak buahnya lenyap?! Mana mungkin mereka bisa menghilang begitu saja!" bentaknya dengan nada marah, wajahnya menyiratkan ketidakpercayaan.

Dengan ketakutan, mata-mata itu melanjutkan laporannya. "Kami telah memeriksa, dan... kami menangkap salah satu dari anak buahnya yang melarikan diri. Lynx telah menghancurkan mereka semua hingga tak bersisa."

"Lynx! Lagi-lagi dia!" Ruvan membentak dengan amarah yang memuncak.

Ketakutan, Ruvan kemudian menemui Kepala Suku Damon dan Leluhur Monrest. "Kepala Suku, Leluhur," ucapnya dengan gemetar. "Rencana kita digagalkan oleh Lynx. Semua tahanan melarikan diri, dan Kronar beserta anak buahnya telah dimusnahkan olehnya." Ruvan menunduk dalam-dalam, ketakutan memenuhi dirinya.

Selama ini, Ruvan bukanlah seseorang yang pengecut. Namun, kemampuan luar biasa Leluhur Monrest membuatnya merasa kecil, seperti semut di hadapan gajah.

Mendengar kabar kekalahan Kronar dan kehancuran kelompok perampok, Leluhur Monrest mengamuk di ruangannya yang gelap dan dipenuhi aura dingin. "Bodoh! Mereka tidak hanya gagal, tapi juga menghancurkan rencana besar kita!" Suaranya menggema, memantul di antara dinding-dinding batu.

Dengan mata menyala penuh amarah, Leluhur Monrest memberi perintah, "Damon! Segera kumpulkan semua pasukanmu di lapangan dekat batu meteor!"

"Baik, Leluhur. Aku akan melaksanakan perintahmu," jawab Damon cepat. Ia bangkit dan pergi bersama Ruvan, meski kegelisahan tergambar jelas di wajahnya. Ia tetap berusaha menyembunyikannya agar para bawahannya tidak melihat.

Beberapa waktu kemudian, seluruh pasukan Monrest telah berkumpul di lapangan luas. Di tengahnya berdiri batu meteor raksasa yang memancarkan aura misterius, membuat siapa pun yang melihatnya merasa takjub.

Para prajurit, yang belum mengetahui kekalahan Kronar, saling berbisik. "Kenapa kita dikumpulkan? Apakah kita akan diberi tugas baru?" tanya seorang prajurit muda dengan mata berbinar.

"Mungkin saja. Kepala Suku biasanya tidak memanggil tanpa alasan besar," jawab prajurit lainnya dengan nada optimis.

Saat bisik-bisik semakin ramai, tiba-tiba aura dingin menyelimuti seluruh lapangan. Leluhur Monrest muncul melayang di atas batu meteor, tubuhnya memancarkan cahaya merah menakutkan. Matanya berkilat seperti bara api, membuat para prajurit terdiam.

"Lihat! Leluhur kita! Pasti akan ada kekuatan baru!" bisik seorang prajurit dengan penuh semangat.

Leluhur Monrest mengangkat tangannya. Tanah di samping batu meteor bergetar hebat. Dalam satu gerakan, ia menciptakan kawah besar berbentuk mangkuk. Tanah terlempar ke udara seperti ledakan, membuat semua prajurit terpesona.

"Leluhur kita sungguh luar biasa!" teriak seorang prajurit dengan penuh keyakinan.

Namun, kekaguman mereka berubah menjadi kebingungan saat Leluhur Monrest menciptakan pedang besar dari energi qi. Pedang itu berkilauan, terlihat tajam seperti mampu membelah apa saja.

Tanpa peringatan, pedang itu melayang dan berayun dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, ratusan prajurit di barisan depan terpotong tanpa sempat berteriak. Darah mengalir deras, memenuhi kawah besar yang baru saja dibuat. Aroma anyir memenuhi udara.

"Apa yang terjadi?! Kenapa dia membunuh kita?!" teriak salah satu prajurit yang masih hidup.

"Kita tidak melakukan kesalahan apa pun!" jerit yang lain panik.

Sebagian prajurit mencoba melarikan diri, tetapi tubuh mereka terlempar ke udara dan meledak, darah mereka mengalir deras ke arah kawah. Mereka yang masih hidup terdiam, tubuh mereka gemetar ketakutan.

Damon, yang berada di barisan depan, tidak bisa menahan gemetarnya. Namun, ia tetap berdiri diam, mencoba menjaga wibawanya di hadapan prajurit-prajurit yang tersisa.

Leluhur Monrest menatap mereka dengan dingin. "Diam!" suaranya menggema, menghentikan semua gerakan.

"Dengar baik-baik!" lanjutnya dengan nada penuh tekanan. "Kalian telah gagal menangkap manusia untuk ritual. Karena itu, kalian sendiri yang akan menjadi gantinya! Kegagalan tidak akan kutoleransi!"

"Leluhur, ampunilah kami! Berikan kami kesempatan untuk menebus kesalahan!" seru seorang pemimpin wilayah, berlutut memohon belas kasihan.

Leluhur Monrest hanya tersenyum sinis. "Kesempatan? Hanya yang berhasil yang pantas mendapatkannya. Kalian hanyalah alat bagiku."

Dengan gerakan tangannya, darah di kawah mulai membentuk pola-pola rumit. Cahaya merah tua memancar, menciptakan formasi besar yang bercahaya. Batu meteor memancarkan energi yang mengalir masuk ke formasi.

Leluhur Monrest melayang ke tengah formasi, lalu menatap Damon dan prajurit yang tersisa. "Aku akan berkultivasi di sini untuk memulihkan kekuatanku. Jangan ada yang berani mengganggu, atau aku akan membunuh kalian semua tanpa ampun!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya menghilang dalam cahaya merah. Aura dingin menyelimuti tempat itu, membuat para prajurit membeku ketakutan.

Damon mengepalkan tangan erat-erat. Dalam hatinya, ia menyimpan amarah. "Leluhur atau bukan, ini penghinaan! Aku harus menemukan cara untuk menghentikannya... suatu saat nanti." Meski demikian, ia tetap menunduk, menunggu waktu berlalu dalam ketakutan yang mencekam.

Sementara itu, di barat pulau, Lynx terlihat meluncur dari atas gunung dengan kecepatan luar biasa. Tubuhnya diselimuti sinar merah keemasan yang berkilauan, menyelimuti setiap langkahnya dengan aura mengesankan.

Beberapa waktu sebelumnya, saat Lynx tiba di perbatasan untuk mengabarkan kedatangan para penduduk yang ingin bergabung dengan Suku Surya, ia menerima berita mengejutkan. Mochi, pria tua yang telah menjadi seperti keluarga baginya, dikabarkan tewas, dan lebih buruk lagi, Banu, seseorang yang mereka percayai, telah berkhianat.

Amarah berkobar di dada Lynx. Ia langsung melesat menuju kampung Suku Surya, mengerahkan seluruh kecepatannya. Napasnya terengah, tetapi tekadnya tak tergoyahkan. Tanpa ia sadari, tubuhnya memancarkan cahaya merah keemasan yang semakin terang, membuatnya mampu berlari jauh lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya hampir terlihat seperti melayang dari satu titik ke titik lainnya.

Para penjaga Suku Surya yang ia lewati hanya mampu melihat kilatan cahaya keemasan yang melesat dengan kecepatan luar biasa. "Apa itu tadi?" tanya salah satu penjaga, terpaku dengan mata yang membelalak. Namun, Lynx sudah menghilang sebelum mereka sempat melihat jelas.

"Kakek Mochi..." pikir Lynx, hatinya dipenuhi kesedihan yang dalam. Bagi Lynx, Mochi bukan sekadar orang tua di pulau ini. Dia adalah seorang guru, seorang pembimbing, dan sosok ayah yang tak pernah dimiliki Lynx sebelumnya.

Dari Mochi, Lynx belajar mengendalikan kekuatan besar yang ia miliki, bagaimana menggunakannya tanpa kehilangan kendali. Dari Mochi pula, ia belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa, bijaksana, dan bertanggung jawab. Kehilangan Mochi adalah pukulan yang menghancurkan, tetapi Lynx tahu, ia tidak boleh berhenti. Ada hal yang harus diselesaikan.

"Ini kesalahanku," gumam Lynx dengan nada penuh penyesalan. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, seperti kabut yang tidak kunjung hilang. "Seharusnya aku tidak meninggalkan Kampung Surya. Seharusnya aku melindungi mereka." Pikirannya terus dihantui bayangan akan kehancuran yang menimpa mereka, semua terjadi karena ia tidak ada di sana.

Lynx menggertakkan giginya, tinjunya mengepal kuat saat ia berlari semakin cepat. Amarah dan rasa bersalah bergabung menjadi bara yang membakar dirinya dari dalam. Aku tak akan membiarkan ini terus terjadi, janjinya dalam hati.

Selama perjalanan menuju Kampung Surya, Lynx melampiaskan kemarahannya pada setiap makhluk mutasi yang kebetulan berada di jalannya. Ia tidak sengaja mencari mereka, tapi siapa pun yang berdiri di lintasan larinya menjadi korban dari kekuatannya yang meluap-luap.

Seekor makhluk besar dengan tubuh dipenuhi duri tajam muncul di hadapannya, hanya untuk dihantam oleh Lynx tanpa memperlambat langkah. Cahaya merah keemasan yang menyelimuti tubuhnya menghancurkan makhluk itu seketika, serpihan tubuhnya beterbangan ke segala arah.

Makhluk lain, berbentuk seperti serigala raksasa dengan taring memanjang, sedang lewat saat Lynx mendekat. Namun, tubuhnya mendadak terhempas oleh gelombang energi yang terpancar dari langkah Lynx. Tubuh serigala itu terpental jauh, menghantam pohon, dan tidak bergerak lagi.

Setiap langkah Lynx adalah kehancuran bagi apa pun yang menghalangi jalannya. Ia seperti badai yang tidak bisa dihentikan, melesat lurus menuju tujuannya. Dalam pikirannya, hanya ada satu tujuan,sampai di Kampung Surya sebelum semuanya terlambat.

